Kamis, 11 Februari 2016

Tips Untuk Night Photography


Tips Fotografi - Apakah Sobat inFotografi pernah merasa frustasi ketika memotret di luar ruangan dengan kondisi intensitas cahaya rendah di malam hari? Jangan khawatir Sobat tidak sendirian, Memotret di malam hari atau pada kondisi kurang cahaya merupakan salah satu subyek fotografi yang paling menantang.

Tips Night Photography

Pelajari bagaimana menghasilkan foto yang lebih bagus di malam hari dengan menggunakan9 tips Night-Photography untuk pemula ini. Apapun yang ingin Sobat pelajari, entah itu memotret langit malam, mencari tahu bagaimana melukis dengan cahaya atau hanya ingin mengetahui bagaimana pengaturan kamera yang tepat untuk memotret malam hari. 9 Tips ini akan menghadirkan dasar yang kuat serta membekali Sobat dengan teknik fotografi low-light serta night photography


TIP 1: GUNAKAN FILE BERKUALITAS BAGUS

Jika Sobat menginginkan foto malam yang terbaik hendaknya gunakan kualitas gambar yang paling bagus, dan itu berarti dalam format RAW. Dengan menggunakan format RAW, foto kalian akan memiliki 'informasi' yang jauh lebih lengkap, dan itu akan memberikan batasan yang lebih luas dalam hal proses pasca pemotretan menggunakan Adobe Camera RAW atau Perangkat lunak pemroses RAW yang lain. RAW memiliki banyak sekali keuntungan ketika digunakan dalam pemotretan malam hari, karena akan memberikan fleksibilitas lebih ketika Sobat ingin merubah atau editting temperatur warna atau meningkatkan serta menurunkan tingkat exposure foto tersebut.

TIP2: GUNAKAN TRIPOD UNTUK HASIL FOTO LEBIH TAJAM

Memotret di malam hari pastinya berarti akan ada sedikit cahaya dan akan menghasilkanshutter speed lambat, mungkin sekitar 1-30 detik, dan percayalah dengan kecepatan shutter seperti itu akan sulit untuk menghasilkan foto yang bagus dengan hanya memegang kamera tanpa alat bantu. Sobat pasti butuh untuk meletakkan kamera digital pada tripod yang kokoh untuk menghasilkan foto yang tajam. Pastikan tripod kalian diatur dengan pas dan berada diatas bahan yang kuat serta solid. Sering sekali dalam nighti-photography Sobat berakhir pada hasil foto-foto yang tidak tajam, untuk menghindari hal ini, gantung tas kamera kalian di pengait yang berada di bawah tripod (kebanyakan memilikinya). Jangan berpegangan pada tripod ketika memotret, karena sedikit saja getaran pada saat memotret dengan menggunakan shutter-speed lambat akan menghasilkan blur yang tidak Sobat inginkan.

TIP 3: RENCANAKAN TEMPAT PEMOTRETAN NIGHT-PHOTOGRAPHY SEBELUM PEMOTRETAN

Sebelum Sobat berkelana di malam hari, buatlah perencanaan tempat pemotretan terlebih dahulu. Hal ini tentu saja akan menghemat waktu berharga kalian. Pilihlah lokasi yang baik dengan setidaknya melakukan survei dimana spot atau tempat yang pas untuk memotret di kota kalian, tentunya harus mempertimbangkan segi kualitas cahaya lampu, arsitektur atau jika Sobat ingin memotret di jalana raya (trails), pilihlah jalan raya yang ramai, kapan waktu terbaik saat lalulintas tersebut ramai, dan carilah juga posisi memotret paling pas dan aman.

TIP 4: KETAHUI DAN GUNAKAN APERTURE PALING TAJAM DI LENSA KALIAN

Gunakan aperture 'Sweet-Spot' dari kamera kalian, biasanya berkisar pada f/8 sampai f/16, tetapi sebelumnya ambillah beberapa foto untuk memeriksa kembali, jika anda sering memotret Sobat pasti tahu dimana Aperture 'Sweet-Spot' lensa kalian berada. Bahkan lensa level Pro tidak menghasilkan hasil terbaik ketika digunakan pada aperture maksimal atau minimal. Dengan menggunakan aperture di tengah-tengah dari range yang tersedia, itu akan meningkatkan peluang kalian untuk menghasilkan foto tertajam dari lensa yang kalian miliki.

TIP 5: PENGATURAN UNTUK NIGHT-PHOTOGRAPHY

Memotret dengan mode 'Manual' merupakan cara terbaik dalam mengendalikan exposure, Sobat bisa memilih aperture kecil paling bagus serta shutter speed lambat untuk night-photography. Mulailah dengan mencari komposisi dan fokus pada jepretan kalian, atur ke aperture atau bukaan kecil sekitar f/16, kemudian atur juga shutter speed yang pas hingga tanda tingkat exposure yang ada di kamera kalian berada di tengah (Exposure Level Indicator). Ambillah beberapa foto dan lakukan review di LCD kamera kalian, tetapi harus diingat bahwa itu adalah exposure yang dianggap tepat oleh kamera, tetapi jika foto kalian terlihat terlalu terang, maka cobalah untuk underexpose sebanyak 1-2 stop sehingga foto tersebut tampak lebih gelap.

TIP 6: BAGAIMANA MENDAPATKAN EFEK 'STARBURST' ATAU 'BINTANG' DARI LAMPU JALAN

Gunakan Aperture kecil (bilangan besar = sekitar f/16) tidak hanya akan menghasilkan kedalaman depth of field dan mempertajam detail dari foreground sampai background, tetapi juga akan membuat lampu jalanan memancarkan berkas cahaya di dalam foto kalian sehingga menambah kesan 'Wow' dalam frame kalian. Lihat foto di bawah ini: 


TIP 7:KOMPOSISI DI MALAM HARI

Berhati-hatilah mempelajari apa yang ditampilkan di live-view sebelum memotret. Apakah sebagian dari frame tersebut gelap? Apakah area yang dipotret lebih menarik dengan bagian sedikit gelap? terkena cahaya terang atau kaya warna dalam kegelapan? jika demikian, jangan takut untuk zoom-ing ke area photogenic tersebut. zoom menggunakan lensa wide-angle  atau zoom menggunakan kaki kalian, mendekatlah ke subyek foto tersebut.

TIP 8: GUNAKAN MIRROR LOCK-UP

Sekecil apapun gerakan bisa mengakibatkan kamera bergoyang (shake) dan hal ini pasti tidak kita semua inginkan, bahkan termasuk getara yang diakibatkan pergerakan mirror naik turun yang ada di dalam kamera DSLR kalian. Sobat bisa mengaktifkan fitur Mirror Lock-up (lihat di dalam menu kamera atau manual book) untuk menghindari potensi gerakan ini.

TIP 9: JANGAN SENTUH KAMERA KALIAN!

Ketika memotret long-exposure di malam hari, menyentuh kamera pada saat menekan tombol shutter bahkan bisa mengakibatkan pergerakan yang cukup untuk menghasilkan 'Blur'. Gunakan fitur self-timer yang sudah ada di dalam kamera untuk memicu shutter setelah Sobat menekan tombol, hal ini bisa dilakukan untuk meminimalkan adanya getaran pada kamera saat memotret, atau Sobat bisa menggunakan remote untuk timing shutter yang lebih akurat.

Penjelasan Kode-Kode Pada Lensa Nikon



Jauh sebelumnya saya telah menulis artikel yang menjelaskan arti dari kode-kode dasar yang secara umum ada pada semua lensa (silahkan baca di sini artikelnya). Artikel tersebut sangat berguna bagi pemula yang baru pertama kali menggunakan DSLR. Adapun artikel kali ini juga membahas inti yang sama atau bisa juga dikatakan sabagai "lanjutan" dari artikel pertama tersebut, hanya saja ini lebih spesifik yang mengulas tentang lensa dari produsen Nikon.

Perlu Anda ketahui, bahwa pada dasarnya semua produsen menanamkan fitur yang "kurang lebih" sama pada produk lensa mereka. Hanya saja tiap-tiap produsen memberikan kode / label / keterangan yang berbeda "nama" pada fitur tersebut. Sebagai contoh, fitur "anti-getar" pada lensa dari Canon menggunakan kode "IS (Image Stabilization)" sedangkan Nikon menggunakan kode "VR (Vibra Reduction)", keduanya berbeda nama tapi pada dasarnya memiliki fungsi yang sama yaitu untuk menstabilkan / mengurangi getaran pada lensa.

Mengetahui kode dan keterangan lensa juga penting, mengapa? Karena ini bisa membantu Anda untuk membeli lensa yang sesuai keutuhan Anda dan inipun membantu Anda untuk bisa lebih maksimal dalam menggunakan lensa, khususnya Anda yang menggunakan produk Nikon. Berikut penjelasan beberapa kode dan keterangan yang umumnya ada pada lensa Nikon:

AF (Auto Focus)


Secara umum semua lensa modern (bukan Nikon saja) memiliki fitur AF ini yaitu fokus lensa yang dapat bekerja secara auto yang dikendalikan oleh kamera. Tidak seperti lensa jadul yang dimana fokusnya hanya bisa dikendalikan secara manual.

AF-D (Auto Focus with Distance Information)


Ada tambahan kode D yaitu Distance Information. Lensa Nikon yang memiliki kode AF-D artinya bahwa lensa tersebut dapat memberikan info tentang jarak dari lensa ke objek / subjek, dan ini juga sangat membantu untuk pemilihan metering yang akan digunakan.

AF-S (Auto Focus with Silent Wave Motor)


Lensa Nikon dengan kode AF-S artinya bahwa lensa tersebut memiliki motor dalam "barrel lensa" sehingga sangat berguna bila digunakan pada semua jenis kamera DSLR Nikon yang tidak mempunyai motor tersendiri dalam "body kamera".

SWM (Silent Wave Motor)


Lensa Nikon dengan kode SWM artinya bahwa lensa tersebut memiliki kemampuan pergantian fokus secara instan. Maksudnya ketika ingin Anda beralih dari mode auto focus ke manual focus bisa dilakukan dengan cepat yaitu cukup dengan memutar ring fokus (focusing ring), dan tak perlu lagi melalui tombol witch seperti pada lensa biasa.

IF (Internal Focusing)


Lensa Nikon yang memiliki kode IF ini artinya bahwa lensa tersebut dapat melakukan pencarian fokus dengan cepat, cukup dengan menggerakkan elemen internal tanpa harus menggerakkan barrel lensa.

RF (Rear Focusing)


Lensa Nikon dengan simbol RF ini artinya bahwa lensa tersebut memiliki cara pencarian titik fokus dengan menggerakkan elemen internal pada bagian belakang lensa.

G


Lensa dengan kode G (contohnya: Nikon 50mm AF-S f/1.4G) artinya bahwa lensa tersebut tidak memiliki ring untuk mengatur aperture. Hampir semua lensa modern Nikon bertipe G.

Micro


Kode ini sama seperti Macro artinya bahwa lensa Nikon tersebut lebih khusus / bisa digunakan untuk memotret subjek jarak dekat atau subjek berukuran mini yang lebih dikenal dengan istilah fotografi Macro.

PC-E (Perspective Control with Electronic Diaphragm)


Lensa Nikon dengan kode PC-E ini artinya bahwa lensa tersebut dapat digeser atau dibengkokkan.

ED (Extra Low Dispersion)


Lensa Nikon dengan kode ED artinya bahwa lensa tersebut memiliki elemen tambahan untuk meminimalisir terjadinya penyimpangan Chromatic (Chromatic Aberration) pada hasil gambar. Untuk mengenal lebih jauh masalah Chromatic silahkan Anda baca di sini.

DC (Defocus Control)


Lensa Nikon dengan kode DC artinya bahwa lensa tersebut dapat mengontrol kualitas bokeh (background blur) pada hasil gambar.

VR (Vibration Reduction)


Lensa Nikon dengan kode VR artinya bahwa lensa tersebut bisa mereduksi getaran atau gerakan tanpa disengaja (hand shake) saat memotret, yang dimana getaran tersebut bisa menyebabkan hasil gambar yang kacau yang terlihat seperti blur pada seluruh objek dalam gambar.

SIC (Super Integrated Coating)


Lensa Nikon dengan kode SIC artinya bahwa lensa tersebut mempunyai lapisan lensa yang dapat menghasilkan gambar dengan kualitas lebih baik seperti warna yang lebih bagus.

N (Nano Crystal Coat)


Lensa Nikon dengan kode N ini artinya bahwa lensa tersebut memiliki lampisan lensa yang mampu meminimalkan masalah ghosting dan flare sehingga gambar yang dihasilkan jauh bisa lebih jernih tanpa gangguan masalah tersebut.

Dx


Lensa Nikon dengan kode DX artinya bahwa lensa tersebut khusus didesain untuk kamera DSLR Nikon berformat "crop sensor" seperti Nikon D3000/D5000/D90/D300s. Namun lensa ini bisa juga digunakan pada DSLR Nikon berformat full-frame, hanya saja akan terjadi beberapa masalah pada gambar.

10 Genre Fotografi Terpopuler Yang Perlu Anda Ketahui


Sama halnya seperti musik yang memiliki berbagai jenis aliran (genre) seperti pop, jazz, rock, metal, dll, begitupula dengan fotografi yang juga memiliki berbagai macam genre dan ini tak kalah penting untuk Anda ketehaui.

Bukan hanya untuk sekedar referensi saja, tapi pengetahuan tentang genre fotografi bisa membantu Anda mengenal keahlian Anda berada di genre mana.

Ada banyak genre fotografi namun di sini saya hanya melampirkan yang populer saja.

1. Wildlife Photography (Alam Liar)


Photo by Anthony McGill

Wildlife Photography adalah genre yang mendokumentasikan berbagai bentuk satwa liar di habitat alami mereka. Ini merupakan salah satu genre fotografi yang lebih menantang. Karena selain Anda harus berani bila menjumpai hewan-hewan pemangsa, dibutuhkan pula keahlian khusus. Contohnya, ada beberapa hewan yang sulit didekati dan dibutuhkan pengetahuan tentang kebiasaan hewan tersebut untuk memprediksi tindakan mereka.

Untuk melihat kumpulan foto wildlife terbaik silahkan klik di sini.

2. Landscape Photography (Pemandangan)


Photo by Elizhaa

Landscape Photography menunjukkan ruang dalam dunia yaitu pemandangan alam, kadang-kadang luas dan tak berujung, tapi kadang juga mikroskopis. Foto landscape biasanya menangkap kehadiran alam tetapi juga dapat fokus pada buatan manusia.

3. Photojournalism / Journalism (Foto Jurnalistik)

 
Photo the Washington Post

Genre Photojournalism ini merupakan bentuk khusus dari jurnalis (mengumpulkan, mengedit, dan penyajian materi berita untuk publikasi atau siaran) yang menggunakan gambar untuk menceritakan sebuah kisah atau berita.

Foto jurnalistik tetap berbeda dari genre fotografi lain yang serupa dengannya, misalnya fotografi dokumenter, sosial, fotografi jalanan atau fotografi selebriti. Genre ini tetap harus mematuhi kerangka etika yang berlaku yang menuntut bahwa pekerjaan yang baik adalah harus jujur dan tidak memihak saat menceritakan sebuah kisah / berita. Hal itu sangat dikritisi dalam jurnalistik. Seperti yang kita ketahui secara umum bahwa fotografi jurnalistik juga mencari gambar untuk berkontribusi terhadap media berita.

4. Portrait / Portraiture Photography (Foto Subjek Manusia)

 
Photo by Hadi Asgari

Portrait Photography atau dikenal juga Portraiture Photography adalah jenis genre yang mengekspose seseorang atau sekelompok orang yang menampilkan ekspresi, kepribadian, dan suasana hati (sedih, senang, marah, dll). Untuk genre ini biasanya lebih fokus pada wajah seseorang, meskipun seluruh tubuh dan latar belakang atau konteks lainnya dapat dimasukkan. Karena wajah adalah subjek yang paling bisa menggambarkan suasana hati seseorang.

5. Architectural Photography (Arsitektur)


Photo by Brad Feinknopf

Architectural Photography adalah genre yang memotret bangunan dan struktur serupa sebagai representasi estetika. Fotografer arsitektur biasanya terampil dalam penggunaan teknik khusus dan peralatan pendukung fotografi.

6. Macro Photography (Makro)


Photo by Shikhei Goh

Macro Photography (atau Photomacrography atau Macrography) adalah genre fotografi yang fokus pada subjek berukuran kecil seperti serangga atau hewan kecil lainnya. Oleh sebab itu genre ini disebut juga sebagai fotografi close-up yang sangat ekstrim. Bahkan seorang fotografer makro bisa membidik mata serangga yang kecil seperti seekor lalat.

Sedangkan bagaimana cara membuat foto makro silahkan baca di sini tipsnya.

7. Street Photography (Fotografi Jalanan)


Photo by Chau Sau Khiang
 
Street Photography adalah fotografi yang menampilkan kondisi manusia di tempat-tempat umum. Fotografi jalanan cuma istilah dan tidak selalu harus berada di jalanan atau bahkan lingkungan perkotaan. Yang terpenting objek atau lingkungan di mana gambar memproyeksikan karakter jelas manusia dalam faksimili atau estetika.

8. Fine-Art Photography


Photo by Allenbirnbach

Fine-Art Photography adalah genre fotografi dibuat sesuai dengan visi seniman sebagai fotografer. Genre fotografi ini berlawanan dengan fotografi representasional seperti Photojournalism (Jurnalistik) yang mendokumenterkan sebuah subjek dan peristiwa tertentu. Namun secara harfiah genre ini kembali menghadirkan realitas objektif bukan maksud subjektif dari fotografer.

9. Still Life Photography


Photo by Harold Ross

Still Life Photography adalah penggambaran subjek / benda mati, dan biasanya mengekspose sekelompok benda-benda yang saling berhubungan seperti menceritakan sesuatu. Genre ini berbeda dari jenis fotografi lainnya seperti landscape atau portraiture yang dapat memberikan kelonggaran pada seorang fotografer untuk menyusun elemen desain dalam sebuah komposisi. Untuk genre ini fotografer dituntut untuk lebih menghadirkan "rasa" dan penggunaan pencahayaan yang halus.

10. Fashion Photography


Photo by Max Jowitt

Fashion Photography adalah genre fotografi yang ditujukan untuk menampilkan pakaian dan barang-barang fashion lainnya. Fotografi fashion yang paling sering dilakukan adalah untuk iklan atau majalah fashion. Seiring waktu, Fashion Photography ini telah mengembangkan estetika sendiri di mana pakaian dan mode yang ditingkatkan dengan kehadiran lokasi eksotis atau aksesoris.

TIPS MEMBUAT FOTOGRAFI MAKRO

Tips Membuat Fotografi Makro
Jenis fotografi bermacam-macam. Ada toys photography, fine art photography, landscape photography, dan lainnya. Kali ini, International Design School akan membahas fotografi makro. Apa sih itu? Fotografi marko adalah salah satu genre fotografi di mana objek berukuran kecil—misalnya serangga, tetesan air, dll—diambil dengan jarak yang sangat dekat agar menghasilkan detail yang tinggi. Kira-kira bagaimana ya membuatnya?
1. Lensa
Seperti yang sudah dikatakan bahwa lensa terdiri atas berbagai jenis. Namun, untuk fotografi makro, lensa yang dipilih tentulah lensa makro. Lensa makro merupakan pilihan yang tepat karena memiliki pembesaran 1:1 atau lebih. Panjang fokus yang dimiliki adalah lebih dari 50 mm, 105 mm, hingga 200 mm. Walaupun lensa makro merupakan pilihan yang paling tepat, tapi kamu juga bisa gunakan extension tube, reverse ring atau filter close up.
2. Tripod
Depth of Field atau DoF yang sempit pada foto makro berdampak pada susahnya melakukan fokus pada objek. Biarkan tubuhmu serileks mungkin. Namun jika sulit, kamu bisa gunakan tripod atau monopod agar fokus objek tidak meleset. Atau kamu juga bisa gunakan speed di atas 1/125 sec.
3. Waktu
Pemilihan waktu kamu untuk memotret juga harus dipertimbangkan. Jika kamu akan mengambil foto natural, huntinglah pada saat matahari bersinar atau sekitar pukul 6-9 pagi. Hal tersebut dikarenakan objek yang kamu ambil (misalnya serangga) sedang berselimutkan butiran embun. Jika kamu ingin melakukannya pada sore hari, pilihlah waktu pada pukul 4-6.
4. Setting kamera
Setelah mempersiapkan lensa, tripod, dan mengetahui waktu yang tepat, kali ini kamu harus mengatur settingan kameramu.
–          Setting kamera dengan format RAW (ini berguna untuk proses editing nanti).
–          Setting aperture sebaiknya antara F7,1 sampai F11 (tergantung situasi).
–          Setting shutter speed di antara 1/80 sec sampai 1/160 sec.
–        Jangan gunakan ISO tinggi karena akan menimbulkan noise dan grain pada foto, atur di antara 100-400.
–        Setting picture style pada neurtal.
–         Setting white balance pada celvin 4200-4800.
–      Gunakan manual focus dibadingkan dengan auto focus agar mendapatkan fokus yang lebih akurat.
5. Cahaya
Kamu bisa memanfaatkan cahaya alam yang berlawanan dengan kamera (backlight) agar foto lebih indah dan berdimensi. Agar mendapatkan foto seperti itu, kamu bisa ambil waktu pada pukul 5-6 pagi atau 5 sore. Oh, ya jangan sampai lensa berhadapan dengan matahari kalau enggak mau fotomu menjadi siluet. Kalau kamu yang ingin menggunakan flash/speedlite/reflector, gunakan pada saat cuaca gelap  terutama jika kamu ingin meng-close up objek dengan pembesaran yang ekstrim (di atas 1:1). Untuk meredam apabila terjadi kelebihan cahaya (over exposure), padukan flash dengan diffuser.
6. Olah foto
Setelah kamu mendapatkan foto yang paling keren, dan dirasa masih terasa kurang sesuatu, artinya kamu harus mengolah fotomu. Biasanya, pada pengolahan foto kamu akan berhadapan dengan pengaturan keterangan (brightness), kontras (contrast), saturasi warna (saturation), mereduksi noise dan mempertajam (sharpness).
–          Gunakan foto di mana komposisi, fokus, dan backgroundnya sudah bagus ketika kamu lihat di kamera.
–          Olah foto dengan pengaturan brightness, contras, leves, dan lain-lain di mana hasilnya tidak berbeda jauh dengan warna aslinya.
–          Lakukan clone stamp untuk merapikan background yang mengganggu,
–          Jika foto terlihat noise dan berbintik-bintik (grain), lakukan reduksi noise dan penajaman secukupnya.
        Bagaimana? Kamu siap untuk mencoba jenis fotografi satu ini? Oh, ya satu hal mendasar ketika kamu akan mencobanya. Jangan menggunakan parfum sebelumnya, apalagi sampai berlebihan karena serangga tidak menyukainya. Tak hanya itu, dekati objek yang akan kamu ambil secara perlahan, agar serangga tidak menganggap kehadiranmu sebuah ancaman. Dan yang terpenting adalah jangan sampai kamu merusak habitat mereka. Selamat mencoba!

Mengenal Macam-Macam Sudut Pandang (Angle) Dalam Fotografi

Istilah "angle" sudah umum dan tak asing lagi bagi kalangan pemula. Hanya saja mereka tidak mengetahui posisi yang benar dari masing-masing sudut pandang yang diberlakukan pada fotografi.

Berikut macam-macam sudut pandang (angle) yang berlaku secara umum dalam fotografi:

1. Eye Level


Ini adalah sudut pandang atau angle yang netral sehingga disebut juga Normal Angle. Pada angle ini tingginya kamera saat membidik harus sejajar dengan subjek / objek yang dibidik. Bila memotret seseorang maka bagian tubuh yang dijadikan tolak ukur untuk mensejajarkan sorotan kamera dengan subjek adalah pada posisi kepala, lebih tepatnya jatuh di area mata.

2. The Bird's-Eye View


Foto yang diambil dengan posisi angle ini akan memperlihatkan sudut pandang dari ketinggian. Maksudnya pemotretan dilakukan dari tempat yang sangat tinggi, contohnya seperti foto yang menampilkan seluruh isi kota, (gedung tinggi, ramainya kendaraan, dan aktivitas di jalan). 

3. High Angle


Angle ini memiliki karakter angle yang sama seperti The Bird's-Eye View di atas yaitu memotret objek dari ketinggian hanya saja angle ini tidak se-ekstrem The Bird's-Eye View. Bila digunakan untuk memotret seseorang maka tingginya sorotan kamera harus lebih tinggi dari posisi kepala orang tersebut. Sehingga posisi kepala akan tampak lebih besar membulat dan ukuran badan tampak mengecil sampai ke kaki seperti meruncing. 

4. Low Angle


Angle ini merupakan kebalikan dari High Angle yaitu sudut pandang yang rendah dan jika digunakan untuk memotret seeorang maka tingginya sorotan kamera harus lebih rendah dari kepala orang tersebut. Hasil foto menggunakan angle ini juga merupakan kebalikan dari hasil High Angle yaitu membesar pada bagian kaki dan mengecil dibagian badan sampai ke kepala.

5. Frog Eye Angle


Angle ini memiliki karakter angle yang sama dengan Low Angle di atas yaitu sudut pandang yang rendah hanya saja tingkat kerendahannya lebih extreme yang dimana kamera hampir saja menyentuh tanah. Sehingga saat menggunakan angle ini terkadang fotografer harus tiarap saat memotret.

6. Canted Angle


Disebut juga Oblique Angle yaitu pemilihan sudut pandang yang sengaja dimiringkan. Angel ini biasanya digunakan untuk menghasilkan foto yang unik.

Jangan lupa baca juga artikel "Mengenal Macam-Macam Teknik Pengambilan Gambar (Type Of Shot)"
PENGENALAN JENIS-JENIS FOTO
DAN TEKNIS DASAR PEMOTRETAN

Memotret adalah proses kreatifitas yang tidak hanya sekedar membidik obyek yang akan kita rekam dan kemudian menekan tombol shutter pada kamera. Dalam menciptakan sebuah karya foto kita harus mempunyai ide (konsep) yang matang agar tidak mengalami kesulitan dilapangan dan yang tidak kalah pentingnya adalah memahami tentang komposisi, ketajaman dan pencahayaan (teknis).
JENIS-JENIS FOTO
Materi jenis-jenis foto ini bertujuan untuk memperkenalkan beberapa jenis foto sebagai referensi lebih jauh lagi dalam memperdalam pengetahuan dunia fotografi. Jenis-jenis foto disini hanya sebagai pengelompokan secara garis besar, yang membantu mempermudah kita dalam memahami sebuah karya fotografi, dan ini bukan sebagai penggolongan yang paten untuk menghasilkan karya foto.
  1. FOTO MANUSIA
Foto manusia adalah semua foto yang obyek utamanya manusia, baik anak-anak sampai orang tua, muda maupun tua. Unsur utama dalam foto ini adalah manusia, yang dapat menawarkan nilai dan daya tarik untuk divisualisasikan. Foto ini dibagi lagi menjadi beberapa kategori yaitu :
a. Portrait
Portrait adalah foto yang menampilkan ekspresi dan karakter manusia dalam kesehariannya. Karakter manusia yang berbeda-beda akan menawarkan image tersendiri dalam membuat foto portrait. Tantangan dalam membuat foto portrait adalah dapat menangkap ekspresi obyek (mimic, tatapan, kerut wajah) yang mampu memberikan kesan emosional dan menciptakan karakter seseorang.
b. Human Interest
Human Interest dalam karya fotografi adalah menggambarkan kehidupan manusia atau interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari serta ekspresi emosional yang memperlihatkan manusia dengan masalah kehidupannya, yang mana kesemuanya itu membawa rasa ketertarikan dan rasa simpati bagi para orang yang menikmati foto tersebut.


c. Stage Photography
Stage Photography adalah semua foto yang menampilkan aktivitas/gaya hidup manusia yang merupakan bagian dari budaya dan dunia entertainment untuk dieksploitasi dan menjadi bahan yang menarik untuk divisualisasikan.
d. Sport
Foto olahraga adalah jenis foto yang menangkap aksi menarik dan spektakuler dalam event dan pertandingan olah raga. Jenis foto ini membutuhkan kecermatan dan kecepatan seorang fotografer dalam menangkap momen terbaik.
  1. FOTO NATURE
Dalam jenis foto nature obyek utamanya adalah benda dan makhluk hidup alami (natural) seperti hewan, tumbuhan, gunung, hutan dan lain-lain.
a. Foto Flora
Jenis foto dengan obyek utama tanaman dan tumbuhan dikenal dengan jenis foto flora. Berbagai jenis tumbuhan dengan segala keanekaragamannya menawarkan nilai keindahan dan daya tarik untuk direkam dengan kamera.
b. Foto Fauna
Foto fauna adalah jenis foto dengan berbagai jenis binatang sebagai obyek utama. Foto ini menampilkan daya tarik dunia binatang dalam aktifitas dan interaksinya.
c. Foto Lanskap
Foto lanskap adalah jenis foto yang begitu popular seperti halnya foto manusia. Foto lanskap merupakan foto bentangan alam yang terdiri dari unsur langit, daratan dan air, sedangkan manusia, hewan, dan tumbuhan hanya sebagai unsur pendukung dalam foto ini. Ekspresi alam serta cuaca menjadi moment utama dalam menilai keberhasilan membuat foto lanskap.
  1. FOTO ARSITEKTUR
Kemanapun anda pergi akan menjumpai bangunan-bangunan dalam berbagai ukuran, bentuk, warna dan desain. Dalam jenis foto ini menampilkan keindahan suatu bangunan baik dari segi sejarah, budaya, desain dan konstruksinya. Memotret suatu bangunan dari berbagai sisi dan menemukan nilai keindahannya menjadi sangat penting dalam membuat foto ini. Foto arsitektur ini tak lepas dari hebohnya dunia arsitektur dan teknik sipil sehingga jenis foto ini menjadi cukup penting peranannya.
  1. FOTO STILL LIFE
Foto still life adalah menciptakan sebuah gambar dari benda atau obyek mati. Membuat gambar dari benda mati menjadi hal yang menarik dan tampak “hidup”, komunikatif, ekspresif dan mengandung pesan yang akan disampaikan merupakan bagian yang paling penting dalam penciptaan karya foto ini. Foto still life bukan sekadar menyalin atau memindahkan objek ke dalam film dengan cara seadanya, karena bila seperti itu yang dilakukan, namanya adalah mendokumentasikan. Jenis foto ini merupakan jenis foto yang menantang dalam menguji kreatifitas, imajinasi, dan kemampuan teknis.
  1. FOTO JURNALISTIK
Foto jurnalistik adalah foto yang digunakan untuk kepentingan pers atau kepentingan informasi. Dalam penyampaian pesannya, harus terdapat caption (tulisan yang menerangkan isi foto) sebagai bagian dari penyajian jenis foto ini. Jenis foto ini sering kita jumpai dalam media massa (Koran, majalah, bulletin, dll).

TEKNIK DASAR PEMOTRETAN
Setelah kita mengenal jenis-jenis foto, sekarang saatnya untuk mengetahui bagaimana cara memotrer untuk menghasilkan sebuah karya foto. Seorang fotografer pada awalnya harus menguasai kamera dan bagaimana cara kerja kamera tersebut.
Focusing
Istilah focusing dalam fotografi adalah proses penajaman imaji pada bidang tertentu suatu obyek pemotretan. Focusing adalah teknik paling dasar tetapi begitu penting, karena untuk mendapatkan gambar yang tajam dan jelas kita harus melakukan focusing secara tepat. Pemilihan bidang atau titik tertentu dalam suatu obyek foto akan menentukan kesan “kedalaman” pada sebuah foto. Obyek yang akan kita hadapi dalam pemotretan tidak hanya sekedar benda diam saja, tetapi kita juga akan dihadapkan pada benda bergerak (misalnya foto olahraga), hal ini akan berpengaruh pada tingkat kesulitan dalam focusing. Untuk tahap pembelajaran, lakukanlah focusing pada benda diam dahulu hingga kita memahami tehnik focusing dengan tepat.
Pengaturan Speed
Proses pembakaran negatif di dalam kamera untuk mendapatkan imaji tertentu dipengaruhi oleh cara kerja dan kecepatan rana kamera. Kita bisa menentukan kecepatan rana saat pembakaran dengan pengaturan speed. Semakin tinggi speed (high speed) yang kita pakai maka akan semakin cepat pula rana bekerja dan sebaliknya, semakin rendah speed (low speed) yang kita pakai maka akan semakin lambat pula rana bekerja. Dalam dunia fotografi terdapat istilah pencahayaan normal (normal eksposure)pencahayaan rendah (under eksposure) dan pencahayaan tinggi (over eksposure). Pencahayaan normal adalah dimana kita menentukan speed dan diafragma yang tepat untuk mendapatkan gambar seperti pada keadaan obyek foto yang sebenarnya. Over eksposure(pencahayaan tinggi) adalah kompensasi pada pengaturan speed untuk mendapatkan intensitas pencahayaan yang lebih banyak daripada pencahayaan normal dan gambar yang dihasilkan pun lebih terang daripada kondisi aslinya. Under eksposure (pencahayaan rendah) adalah kompensasi pencahayaan pada pengaturan speed untuk mengurangi intensitas cahaya dibawah pencahayaan normal. Under eksposure sering digunakan ketika kondisi cahaya dalam pemotretan terlalu keras sehingga pengkompensasian akan diperlukan untuk mendapatkan gambar yang lebih maksimal.
Pengaturan Diafragma
Sebuah foto yang menarik adalah dimana foto tersebut terdapat dimensi ruang atau kesan kedalaman. Fasilitas diafragma pada lensa kamera berperan penting dalam mengatur pemisahan antara bidang background dan obyek utama. Diafragma juga menetukan seberapa luas ruang tajam pada foto. Semakin kecil bukaan diafragma semakin luas ruang tajam yang bisa kita dapatkan dan semakin besar bukaan diafragma maka semakin sempit ruang tajam dalam foto.

RESEP KREATIF PEMOTRETAN
1. Zooming
Zooming adalah kreatif pemotretan dengan memanfaatkan fasilitas ring zoom pada lensa kamera. Zoom in adalah membuat gambar obyek tampak lebih mendekat sedangkan zoom out adalah membuat gambar obyek tampak lebih menjauh. Dalam pengaturan speed dan penggunaan zoom yang tepat akan memberikan efek motion (gerak) pada hasil foto.
Bahan-bahan :
a.       Kamera
b.      Tripod (jika diperlukan)
c.       Filter Radial Zoom (jika diperlukan)

Cara membuat :
a.       Memotret zooming, membutuhkan speed yang lambat, jadi pastikan speed pada kamera anda dalam setting speed lambat, pastikan objek dalam keadaan fokus
b.      Setelah speed ditentukan, maka lanjutkan dengan mengatur diafragma menyesuaikan speed agar mendapat pencahayaan yang normal
c.       Setelah mendapat normal, jepret shutter bersamaan dengan memutar ring zoom, jika ring zoom diputar dari jauh ke dekat maka disebut zoom in, jika ring zoom diputar dari dekat ke jauh disebut zoom out
d.      Jika kesulitan dengan speed lambat, anda bisa menggunakan tripod atau filter radial zoom.

2. Panning
Panning adalah teknik kreatif pemotretan untuk mendapatkan efek gerak pada obyek yang bergerak (balap motor, orang berlari, dll). Hasil dari teknik panning adalah adanya efek motion (gerak) pada latar belakang (background).
Bahan-bahan :
a.       Kamera
b.      Tripod (jika diperlukan)
Cara membuat :
a.       Sama seperti memotret zooming, motret panning membutuhkan speed yang lambat agar menghasilkan efek gerak. Jadi pastikan kamera anda dalam setting speed lambat
b.      Kemudian lanjutkan dengan mengatur diafragma agar mendapat pencahayaan yang normal
c.       Pencet shutter bersamaan dengan mengubah arah kamera mengikuti gerak objek
d.      Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pastikan memencet shutter pada saat objek berada tepat di tengah kamera
e.       Jika anda kesulitan dengan speed lambat, pergunakan tripod.
3. Double/Multi Ekspose
Adalah teknik pemotretan dengan mengkombinasikan beberapa perekaman imaji/gambar dalam satu bingkai frame. Teknik ini membutuhkan penuangan kreatifitas, ide, konsep dan pemahaman komposisi serta pencahayaan.
Bahan-bahan :
a.       Kamera
b.      Filter Multi Ekspose (jika  diperlukan)

Cara membuat :
a.       Memotret multi ekspose membutuhkan ide, konsep, dan kreativitas. Jadi pastikan anda sudah mempunyai ide
b.      Jika anda sudah mempunyai ide, pastikan objek yang akan anda potret dalam keadaan pencahayaan normal (atur terlebih dahulu speed dan diafragmanya)
c.       Jika pencahayaan sudah normal, pencet tombol shutter. Objek 1 sudah anda dapatkan
d.      Untuk mendapatkan objek ke-2, 3, dst., ulangi urutan di atas. Akan tetapi sebelum memutar kokang, putar tombol multi ekspose kemudian baru di kokang, kemudian pencet shutter dan begitu seterusnya
e.       Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pastikan anda sudah memikirkan porsi untuk objek 1, 2, 3, dst dalam satu frame
f.       Jika anda kesulitan, anda bisa menggunakan filter multi ekspose.

4. Bulb
Bulb adalah proses pemotretan dengan memanfaatkan fasilitas bulb pada kamera. Fasilitas bulb pada kamera memberikan keleluasaan dalam menentukan berapa lama rana terbuka untuk proses pembakaran. Bila kita memotret pada kondisi cahaya yang minim atau sangat kurang (pada malam hari), dan prioritas speed tidak mampu lagi mendapatkan pencahayaan normal maka fasilitas bulb pada kamera akan sangat membantu. Untuk menghindari goncangan (shaking), alat bantu tripod dan kabel release sangat dibutuhkan.
Bahan-bahan :
a.       Kamera
b.      Tripod
c.       Kabel Release

Cara membuat :
a.       Pastikan kamera anda dalam setting speed bulb
b.      Untuk diafragma, terserah pada fotografer. Jika bukaan diafragma lebar maka efek dari sumber cahaya akan bulat. Jika bukaan diafragma sempit maka efek dari sumber cahaya akan berbentuk bintang
c.       Untuk lamanya rana membuka (speed), fotografer dapat menentukan sendiri waktunya
d.      Untuk menghindari goncangan pada kamera, lebih baik menggunakan tripod atau kabel release.

5. Siluet
Siluet adalah teknik pemotretan untuk menampilkan gambar obyek dalam keadaan gelap. Teknik ini memanfaatkan arah sumber cahaya yang berasal dari balik obyek yang akan kita potret. Teknik ini membutuhkan ketepatan pencahayaan agar obyek yang kita rekam tetap tampil dengan kontur dan ketajaman yang tepat.
Bahan-bahan :
a.       Kamera


Cara membuat :
a.       Teknik siluet ini memanfaatkan sumber cahaya yang datang dari balik objek sehingga pengukuran speed dan diafragma terletak pada sumber cahaya tersebut
b.      Karena kita mengukur pencahayaan normal pada sumber cahaya yang ada dibalik objek, maka efeknya objek yang ada didepannya akan lebih gelap.

6. Makro
Makro adalah kreatif dalam pemotretan dengan menggunakan lensa makro untuk mendapatkan gambar obyek yang sangat dekat sekali. Foto makro juga digunakan untuk mendapatkan detail dan tekstur pada obyek yang kita potret. Dalam pemotretan makro, ruang tajam akan menjadi sempit sekali oleh karena itu dibutuhkan ketepatan pancahayaan dan focusing. Ketika tidak ada lensa makro untuk melakukan pemotretan ini kita bisa menyiasatinya dengan membalik lensa normal untuk pemotreta makro.
Bahan-bahan :
a.       Kamera
b.      Lensa Makro (jika punya)
c.       Filter Close Up

Cara membuat :
a.       Jika anda mempunyi lensa makro, maka memotret makro dapat dilakukan seperti pemotretan pada umumnya
b.      Jika anda tidak mempunyai lensa makro, anda bisa menyiasati dengan cara membalik lensa normal
c.       Jika anda masih kesulitan, pakailah filter close up
7. Framming
Framming adalah kreatif pemotretan dengan memanfaatkan unsur lain pada obyek yang kita potret sehingga membentuk kesan frame/bingkai tersendiri untuk menambah nilai keunikan dan menarik serta memperkuat kesan foto secara visual.
8.   Strobis
Strobist adalah teknik pemakaian flash secara external, jadi tidak digunakan diatas hotshoe kamera, melainkan dengan bantuan trigger, atau Flash yang bisa digunakan sebagai master. Alat wireless trigger ini umumnya menggunakan gelombang radio atau sinar infra merah untuk menyalakan flash slave (flash lain harus mengikuti pada flash utama). Keuntungan dengan menggunakan teknik ini kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan.